Musim hujan seringkali meninggalkan genangan air di jalanan yang menjadi momok bagi pengemudi karena risiko aquaplaning atau hydroplaning. Pertanyaan krusial yang perlu dijawab adalah berapa batas kecepatan aman yang sebaiknya diterapkan saat kendaraan harus melewati permukaan air yang tergenang, agar ban tetap mampu membuang air dan menjaga traksi dengan aspal. Penelitian terbaru dari IMI menunjukkan bahwa batas kecepatan aman sangat bergantung pada kedalaman genangan dan kondisi ban, namun secara umum, kecepatan di bawah 50 km/jam adalah ambang yang relatif aman untuk genangan setinggi 5-7 mm, sementara untuk genangan yang lebih dalam (di atas 10 mm), kecepatan harus diturunkan hingga di bawah 30 km/jam. Melalui riset batas kecepatan air, terungkap bahwa pada kecepatan 70 km/jam, risiko kehilangan kendali meningkat hingga 4 kali lipat dibandingkan pada kecepatan 50 km/jam.
Fenomena aquaplaning terjadi ketika lapisan air di antara ban dan aspal tidak dapat dibuang sepenuhnya oleh alur kembangan ban, sehingga ban mengapung di atas air dan kehilangan semua daya cengkeram. Kecepatan kritis di mana aquaplaning mulai terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor: kedalaman alur ban, lebar ban, tekanan angin, dan berat kendaraan. Penelitian ini mengukur kecepatan kendaraan aman dengan melakukan uji lapangan menggunakan berbagai jenis kendaraan dan ban pada lintasan yang sengaja digenangi air dengan ketebalan yang bervariasi. Hasilnya menunjukkan bahwa ban dengan sisa alur kurang dari 1,6 mm kehilangan kemampuan pembuangan air secara signifikan, sehingga batas kecepatan amannya turun drastis.
Salah satu temuan penting adalah bahwa tekanan angin ban yang terlalu rendah memperburuk risiko aquaplaning karena tapak ban menjadi lebih lebar dan alur air menyempit. Sebaliknya, tekanan angin yang sesuai spesifikasi membantu ban mempertahankan bentuk dan alur yang optimal. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh genangan air terhadap keselamatan sangat dipengaruhi oleh perawatan ban yang rutin dan benar. Temuan ini mendorong IMI untuk mengampanyekan pengecekan tekanan angin dan kedalaman alur ban sebagai langkah preventif utama sebelum memasuki musim hujan, serta memberikan panduan kecepatan maksimum yang tertera pada ban itu sendiri.
Lebih jauh, penelitian ini juga menyoroti pentingnya teknik mengemudi yang tepat saat melewati genangan, seperti tidak mengerem mendadak atau memutar setir secara tiba-tiba, karena kedua tindakan tersebut dapat memicu hilangnya keseimbangan. Dengan memahami manajemen kecepatan banjir, setiap pengemudi dapat melintasi genangan air dengan lebih percaya diri dan aman, mengurangi risiko kecelakaan fatal yang sering terjadi di musim hujan. Pada akhirnya, batas kecepatan aman bukanlah angka statis, melainkan hasil dari pemahaman kondisi kendaraan, jalan, dan cuaca yang terintegrasi.