Kalimantan Barat memiliki karakteristik geografis yang sangat unik, di mana garis khatulistiwa membelah wilayah ini dan menciptakan ekosistem hutan hujan tropis yang sangat padat. Kondisi ini membawa tantangan tersendiri bagi dunia otomotif, terutama dalam hal performa kendaraan. IMI Kalbar baru-baru ini menggelar sebuah agenda besar bertajuk Ekspedisi Khatulistiwa. Kegiatan ini bukan sekadar ajang berkumpulnya para pecinta off-road, melainkan sebuah misi teknis untuk menguji sejauh mana ketahanan mesin kendaraan saat dipaksa bekerja di jalur dengan tingkat kelembapan udara tertinggi di Indonesia.
Kelembapan udara yang ekstrem di pedalaman Kalimantan menjadi musuh utama bagi sistem pembakaran mesin. Dalam udara yang sangat lembap, kandungan oksigen cenderung lebih tipis dan uap air yang tinggi dapat memengaruhi kualitas campuran udara dan bahan bakar di dalam ruang bakar. Melalui kegiatan Khatulistiwa ini, IMI Kalbar ingin mengumpulkan data mengenai perilaku berbagai jenis mesin, mulai dari mesin diesel konvensional hingga mesin bensin modern dengan sistem injeksi. Jalur yang dipilih mencakup rawa-rawa tergenang hingga hutan lebat yang jarang terpapar sinar matahari, menciptakan laboratorium alam yang sempurna untuk pengujian daya tahan komponen elektrikal dan mekanikal.
Para teknisi yang mendampingi ekspedisi ini mencatat bahwa masalah yang sering muncul di jalur Lembap adalah korosi cepat pada soket elektrik serta penurunan performa filter udara. Filter udara yang lembap dapat menghambat aliran oksigen, yang mengakibatkan mesin menjadi cepat panas atau “overheat” meski suhu lingkungan terlihat sejuk. Oleh karena itu, IMI Kalbar mengedukasi para anggotanya mengenai pentingnya modifikasi sistem asupan udara (intake) dan penggunaan pelindung komponen elektrikal yang lebih mumpuni sebelum memasuki jalur ekstrem di Kalimantan. Pemahaman teknis ini sangat krusial agar kendaraan tidak mengalami kegagalan fungsi di tengah hutan yang jauh dari pemukiman.
Selain aspek teknis mesin, ekspedisi ini juga menguji ketahanan fisik dan mental para pengendaranya. Berada di jalur khatulistiwa berarti berhadapan dengan cuaca yang tidak menentu; hujan lebat bisa turun seketika diikuti panas yang menyengat, menciptakan efek uap yang menguras tenaga. IMI Kalbar menekankan bahwa dalam perjalanan seperti ini, kesiapan kendaraan harus sejalan dengan kesiapan logistik dan navigasi. Penggunaan perangkat GPS standar militer dan komunikasi radio menjadi kewajiban, karena sinyal seluler hampir tidak ditemukan di titik-titik terdalam jalur ekspedisi tersebut.