Prospek perang dagang yang melibatkan bea masuk baru antara Uni Eropa (UE) dan Tiongkok telah memicu kekhawatiran serius di kalangan produsen kendaraan Jerman. Ancaman pengenaan tarif oleh UE terhadap impor kendaraan listrik (EV) dari Tiongkok, dengan alasan subsidi negara yang tidak adil, berpotensi memicu balasan dari Beijing. Situasi ini menempatkan produsen kendaraan raksasa seperti Volkswagen, BMW, dan Mercedes-Benz dalam posisi genting, mengingat ketergantungan mereka yang besar pada pasar Tiongkok.
Kecemasan produsen kendaraan Jerman ini beralasan. Tiongkok bukan hanya pasar penjualan terbesar bagi banyak merek mobil Jerman, tetapi juga pusat penting untuk produksi dan rantai pasok global mereka. Jika Tiongkok membalas dengan tarif yang setara, harga mobil Jerman di pasar Tiongkok akan melambung, mengurangi daya saing mereka dan berpotensi menyebabkan kerugian finansial yang signifikan. Selain itu, gangguan pada rantai pasok global juga dapat menghambat produksi dan pengiriman mobil ke seluruh dunia.
Para pemimpin industri otomotif Jerman telah dengan tegas menyuarakan penolakan mereka terhadap langkah-langkah proteksionis. Mereka berargumen bahwa solusi terbaik adalah melalui negosiasi dan diplomasi, bukan melalui eskalasi konflik dagang. Perang tarif hanya akan merusak hubungan ekonomi yang telah dibangun selama bertahun-tahun dan memperlambat inovasi, khususnya dalam transisi menuju mobilitas listrik. Mereka menekankan bahwa persaingan yang sehat dan terbuka akan lebih bermanfaat bagi semua pihak dalam jangka panjang.
Sebagai contoh, dalam sebuah pertemuan tertutup yang diselenggarakan oleh Kementerian Ekonomi Jerman pada 25 April 2025, perwakilan dari tiga produsen kendaraan terbesar Jerman menyampaikan kekhawatiran mendalam mereka tentang dampak potensial perang tarif. Seorang pejabat kementerian yang hadir pada 26 April 2025, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengonfirmasi bahwa perusahaan-perusahaan tersebut menekan pemerintah untuk mencari solusi diplomatik. Laporan dari Kantor Berita Ekonomi Jerman pada 27 April 2025, juga menunjukkan bahwa ekspor komponen otomotif Jerman ke Tiongkok telah mencapai rekor tertinggi tahun lalu, menunjukkan betapa saling terkaitnya kedua ekonomi tersebut. Semua indikator ini memperkuat posisi produsen kendaraan Jerman bahwa konfrontasi tarif harus dihindari demi stabilitas industri otomotif global.